Parentian.web.id - Menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan yang penuh warna. Ada saatnya kita bahagia dan haru melihat perkembangan anak setiap harinya. Tapi kadang ada juga momen yang menguji kesabaran sampai memicu emosi. Apalagi pas anak berada di usia toddler, beuh rasanya itu sangat menguji emosi sekali. Karena anak itu mulai eksplorasi kemandiriannya dan setiap situasi menjadi tantangan bagi anak.
But, tahu nggak sih bu kalau mendidik anak dengan kepala dingin dan tenang itu tidak hanya membuat suasana rumah jadi lebih tenang namun juga menjadi kunci utama dalam membentuk kecerdasan emosional anak. Ini ada beberapa tips praktis berdasarkan pengalaman agar bisa mendidik anak tanpa emosi, meskipun sulit ya hehe, namun bismillah pasti bisa melakukannya.
Mengenali sinyal emosi lebih awal
Sebelum emosi meledak, biasanya tubuh suka memberikan tanda. Kalau saya pribadi biasanya tangan dingin, detak jantung jadi lebih cepat, kepala menjadi agak pusing dan napas menjadi lebih pendek. Sinyal itu langsung terasa, biasanya jika tanda ini muncul saya langsung diam dan menjauh dari anak, ambil napas dalam - dalam sebelum menghadapi anak kembali. Karena saya percaya kita nggak bisa menenangkan anak jika diri sendiri aja belum tenang.
Luang waktu untuk bicara dari hati ke hati
Kebanyakan anak - anak itu berulah ketika mereka merasa kurang diperhatikan. Jadi biasanya saya coba meluangkan waktu, 15 menit lah setiap hari tanpa ada distraksi hp atau pun TV, pokoknya semua perhatian kita curahkan saja ke anak.
Ada tips dari psikolog, ketika bicara dengan anak usahakan kita sejajar dengan anak ketika bicara. Tatap mata mereka dengan lembut supaya anak merasa lebih aman dan juga lebih mudah mendengarkan instruksi tanpa merasa terintimidasi.
Fokus pada hal - hal positif, jangan fokus pada kesalahan anaknya saja
Manusia itu memang cenderung lebih suka melihat kesalahan daripada kebaikan, iya kan?
Nah bismillah yuk belajar mencoba ubah sudut pandang. Ketika menegur jangan hanya fokus pada kesalahan saja, tapi berikan juga pujian yang tulus ketika melakukan hal - hal baik meskipun kecil. Fokus pada hal positif anak akan membuatnya merasa dihargai dan cenderung akan mengulangi perbuatan baiknya itu.
Ubah larangan jadi instruksi yang jelas
Pikiran anak kecil itu sangat sulit memproses kata larangan, jadi buat mereka kata "jangan" itu semacam perintah. Jadi ubah menjadi kalimat positif misal "jangan buang - buang makanan" bisa kita ganti dengan "yuk sayang habiskan makanannya, pelan - pelan aja". Instruksi yang jelas dan lembut ini akan memberikan efek lebih baik, dan lebih efektif diterima otak anak dibandingkan larangan yang mereka anggap seperti ancaman.
Menjadi teladan dalam mengelola emosi dan rasa marah
Anak itu peniru ulung. Jika ingin anak mengelola amarahnya, yuk tunjukkan caranya. Ketika ibu kesal, bisa berkata jujur "Ibu lagi kesal nih, ibu mau diam dulu sebentar yah biar agak tenang." Hal ini mengajarkan anak bahwa rasa marah itu manusiawi, tapi yang penting adalah bagaimana kita mengendalikannya.
Tetap berpikir logis kalau anak - anak adalah anak - anak
Harus ingat, kalau anak kecil belum memiliki kontrol yang sempurna seperti orang dewasa. Ketika anak tumpahin susu atau sedang tantrum, anak tidak sedang membuat ibu nya marah secara sengaja kok, dia hanya sedang memahami dirinya sendiri, memahami dunianya. Dengan memahami kapasitas otak anak yang masih berkembang, kita akan lebih mudah merasa empati dan memahami anak.
Jangan hanya terapkan hukuman, tapi terapkan konsekuensinya juga
Mendidik anak tanpa emosi bukan berarti membebaskan anak tanpa ada aturan. Tetap tegas namun tetap tenang. Gunakan konsekuensi yang logis dan sudah disepakati sebelumnya. Misal jika anak membuang makanan maka konsekuensinya dia nggak boleh main dalam rentang waktu tertentu, sampaikan dengan nada datar dan tegas, tidak perlu berteriak.
Dan jujur, mendidik anak tanpa emosi itu adalah proses belajar yang sangat panjang. Jangan salahkan diri sendiri jika sesekali hilang kendali dan emosi yang memuncak. Yang paling penting ada kemauan untuk terus mencoba dan membangun hubungan penuh kasih sayang dengan anak. Karena pada akhirnya rasa aman dan kasih sayang merupakan pondasi yang terbaik untuk tumbuh kembang anak.
Jika ibu atau ayah ada tips untuk menjaga kesabaran ketika anak tantrum, yuk sharing!
Sampai jumpa pada postingan lainnya,
Love,



0 Comments
Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)